Jumat, 10 Juni 2016

TUGAS SIG Review Jurnal
“Kajian Kesesuaian Lahan Tambak, Konservasi Dan Permukiman Kawasan Pesisir Menggunakan System Informasi Geografis (Studi Kasus: Pesisir Pangandaran, Jawa Barat)”




Oleh:
Suprianty JH Sinaga E1I013036
Hermayuni Sinaga E1I013035


Dosen Pengampu: Yar Johan S.Pi.,M.Si


PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2016










REVIEW JURNAL
Abstrak
             Pesisir merupakan wilayah yang rentan terhadap perubahan, baik perubahan yang terjadi karena proses alami dan perubahan karena campur tangan manusia. Perubahan yang terjadi akan mempengaruhi tata guna lahan, geomorfologi dan ekosistem wilayah tersebut. Wilayah yang akan dikaji menggunakan analisis kesesuaian lahan adalah pesisir Pangandaran yang berada di bagian Selatan Pulau Jawa. Wilayah penelitian terdiri atas sepuluh desa, yaitu Desa Batukaras, Desa Cijulang, Desa Parigi, Desa Karangjaladri, Desa Cibenda, Desa Sukaresik, Desa Cikembulan, Desa Wonoharjo, Desa Pananjung, Desa Pangandaran dan Desa Babakan dimana wilayah tersebut merupakan daerah wisata yang berkembang, kegiatan perikanan tambak, kawasan suaka alam, dan kawasan permukiman. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi lahan yang sesuai untuk peruntukan tambak, konservasi dan permukiman di kawasan pesisir Pangandaran. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan analisis kesesuaian lahan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) berdasarkan evaluasi multikriteria. SIG berfungsi untuk mengolah data spasial dan visualisasi hasil analisis kesesuaian lahan. Dari hasil analisis didapatkan bahwa lahan yang sesuai (S1) untuk peruntukan lahan tambak, konservasi, dan permukiman berturut-turut adalah 2.864,67 ha, 517,41 ha, dan 1.675,77 ha.
1. Pendahuluan
Pesisir merupakan wilayah yang rentan terhadap perubahan, baik perubahan yang terjadi karena proses alami dan perubahan karena campur tangan manusia. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan lingkungan kawasan pesisir dapat dilakukan dengan analisis kesesuaian lahan menggunakan teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan lingkungan kawasan pesisir dapat dilakukan dengan analisis kesesuaian lahan menggunakan teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG).
Perencanaan pengelolaan dan pengambilan keputusan yang tepat harus dilandasi oleh data dan informasi yang yang akurat tentang kondisi lahan dengan demikian harus dilakukan pemantauan kesesuaian lahan, penggunaan teknologi GIS dapat mempermudah analisis kesesuaian lahan pada suatu kawasan/wilayah yang luas (Gatheru dan Maingi, 2010) seperti pada kawasan pesisir.
Manurung (2002) dan Erwindy (2000) menyatakan bahwa analisis kesesuaian lahan menggunakan SIG dapat digunakan  untuk menentukan rekomendasi pengelolaan dan kebijakan suatu kawasan. Bandyopadhyay dkk. (2009) mengemukakan bahwa analisis kesesuaian lahan menggunakan SIG dapat membantu penilaian penentuan lahan untuk peruntukan yang spesifik, (Jafari dan Narges, 2010) juga menjelaskan bahwa dengan menggunakan analisis kesesuaian lahan maka dapat ditentukan apakah lahan tersebut sesuai atau tidak untuk digunakan oleh suatu peruntukan lahan secara spesifik.
Kawasan pesisir Pangandaran merupakan daerah wisata yang berkembang, kegiatan perikanan tambak, kawasan suaka alam, dan kawasan permukiman. Monitoring dan evaluasi pemanfaatan lahan di pesisir Pangandaran perlu dilakukan mengingat banyaknya aktivitas manusia di wilayah tersebut yang dapat mempengaruhi kualitas lingkungan.
2. Tujuan Penelitian
            Dengan demikian perlu dilakukan penelitian di kawasan pesisir Pangandaran untuk mengetahui pemanfaatan lahan dan kesesuaiannya sehingga dapat memberikan masukan untuk kebijakan lingkungan yang dapat diterapkan di kawasan pesisir Pangandaran. Penelitian ini dapat memberikan informasi dan gambaran kondisi lingkungan di wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan data kesesuaian lahan menggunakan SIG.
3. Metodologi
Analisis kesesuaian lahan dilakukan dengan menggunakan analisis SIG, tahap pengumpulan data spasial/vektor wilayah penelitian dilakukan bersamaan dengan identifikasi kriteria kesesuaian lahan baik untuk tambak, konservasi dan pemukiman.setelah pengumpulan data-data tersebut kemudian diolah menggunakan sofware SIG.
Software yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quantum-GIS untuk melakukan proses digitasi peta dan pengolahan data spasial/vector.
Analisis kesesuaian lahan diolah menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), mencakup empat (4) tahapan analisis, yaitu:
1. Penyusunan peta kawasan pesisir Pangandaran,
2. Penyusunan matriks (CGIA, 2005) kesesuaian lahan tambak, konservasi dan
    permukiman
3. Pembobotan dan scoring (CGIA, 2005), dan
4. Analisis spasial untuk mengetahui kesesuaian lahan tambak, konservasi dan permukiman yang ada di kawasan pesisir Pangandaran. Penentuan bobot dan skor didasarkan pada tingkat kepentingan parameter terhadap suatu peruntukan. Analisis spasial menggunakan formula matematis sebagai berikut (Fauzy dkk., 2009):
P(x) = f (Abiotik) + f (Biotik) + f (RTRW)……….(1)
Dimana: P(x) = daerah potensial untuk pengembangan usaha x.

Metodologi jurnal pembanding,
Balian utama yang digunakan dalam jurnal pembanding ini adalah data penginderaan jauh (inderaja) Landsat 7-ETM dengan resolusi sapasial 30 x 30 meter. Peta-peta yang digunakan adalah 1) Peta jenis tanah, 2) Peta kemiringan lereng yang diturunkan dari peta rupa bumi dan 3) Peta arahan tataruang tanaman pertanian. Selain itu data curah hujan dan elevasi wilayah setempat merupakan data pendukung yang digunakan sebagai bahan evaluasi potensi sumberdaya lahan.
Pada kegiatan ini digunakan perangkat lunak Er-Mapper untuk pengolahan inderaja Lansdsat. Untuk pengolahan data GIS digunakan perangkat lunak Arc-view dan Arc-Info. Perangkat lunak Excel merupakan peralatan utama yang digunakan untuk pengolahan data-data dalam bentuk tabular. Selain itu untuk pengecekan di lapangan digunakan pesawat GPS (Geo Positioning System) sebagai pengukur posisi lokasi di lapangan.


·         Pengolahan dan Analisis Data
a.    Koreksi radiometric,
Koreksi ini bertujuan untuk  memperkecil kesalahan yang dari faktor awan dan atmosfer, dengan cara menyamakan histogram masing-masing kanal yang dimiliki.
b.    koreksi geometris,
koreksi inimemperkecil kesalahan jarak antar titik yang tidak sama dari kelengkungan keseluruhan permukaan bumi sehingga jarak antar titik dapat mendekati bidang datar.
c.    Analisis visual,
Kemampuan data inderaja Landsat dengan kombinasi kanal yang berbeda berguna untuk analisis visual. Kombinasi kanal 4, 5 dan 3 (kanal 4 untuk Red, 5 untuk Green dan 3 untuk blue) yang akan memperlihatkan mangrove diantara penutup lahan. Mangrove kaan terlihat berwarna merali gelap dan kontraks di antara objek lain disekitarnya. Kombinasi yang lain 5, 4 dan 3 (kanal 5 untuk Red, 4 untuk Green dan 3 untuk blue) mempermudah interprestasi objek lain di darat, seperti hutan, perkebunan, kebun campur, pemukiman dan lain-lain.
d.      Klasifikasi penutup lahan,
Klasifikasi penutup lahan dilakukan secara digital, teknik klasifikasi yang digunakan adalah metode Supervised. Langkah awal adalah membentuk training sampel dan menguji training sampel secara statistik. Dimana objek dengan nilai statistik terdekat dikelompokkan menjadi kelas sesuai dengan kelas training sampel yang diambil.
e.    Potensi lahan untuk tambak,
Penentuan potensi lahan unntuk tambak adalah dengan menilai kualitas suatu lahan dengan persyaratan harus dipenuhi untuk pengembangan lahan tambak. Penilaian kualitas lahan adalah denganmengacu pada data-data yang tersedai untuk daerah tersebut. Data-data tersebut adalah seperti kemiringan lahan, penggunaan lahan, jenis tanah dan curah hujan.
Diagram alur penelitian pada jurnal pembanding dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram alur penelitian

4.Hasil dan Pembahasan
Analisis kesesuaian lahan pesisir pangandaran dilakukan pada tiga (3) peruntukan, yaitu perikanan tambak, konservasi dan pemukiman berdasarkan atas evaluasi multi kriteria untuk setiap peruntukan.  Berdasarkaan analisis SIG yang dilakukan pada setiap kesesuain lahan (tambak, konservasi dan pemukiman) di kawasa pesisir pangandaran lahan yang memiliki kriteria sesuai (S1).        
Hasil tumpang susun antara peta lahan yang memiliki kriteria sesuai (S1) dengan peta rencana pola kawasan pangandaran yang diolah menggunakan SIG didapatkan bahwa kawasan konservasi hasil analisis sudah sesuai dengan kawasan konservasi pada rencana pola ruang.
Untuk peta kesesuaian lahan tambak dalam kategori sesuai (S1), sesuai bersyarat (S2) dan tidak sesuai (N1) dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3.

Gambar 2. Peta kesesuaian lahan tambak (Sumber : Khrisna, 2010)

Adapun kelemahan maupun kesalahan pada gambar 2 diatas dapat dilihat bahwa pada peta tersebut tidak memiliki kejelasan pada bagian legendanya, seperti bagian-bagian sungai, jalan, maupun danau dan juga wilayah 10 desa terlebih desa Pangandaran, Tidak terdapat sumber peta dan untuk ukuran skalanya tidak jelas, apakah termasuk kedalam meter, kilometer, dll.


Gambar 3. Peta tumpang susun kesesuaian lahan kategori (S1) dengan peta rencana pola ruang. (Sumber : Khrisna, 2010)

Adapun kelemahan maupun kesalahan pada gambar 3 diatas dapat dilihat bahwa  pada peta diatas tidak memiliki sumber peta dan tanggal pembuat peta tidak tercantum pada peta.

Pembanding,
            Untuk jurnal pembanding terhadap jurnal acuan dapat dilihat pada Gambar 4.



Gambar 4. Peta batas wilayah kabupaten wilayah Banyuwangi (Sumber : Ely, 2004)

Pada peta tersebut sudah bisa dikatakan lengkap, namun untuk kejelasan warna pada bagian-bagian legenda masih kurang jelas dan pewarnaan yang dilakukan hampir menyerupai atau mirip yang satu dengan yang lainnya.
5. Kesimpulan
Kedua jurnal tersebut terdapat peta yang masih memiliki kekurangan ataupun kesalahan misalnya pada atribut peta yang kurang dan tanggal pembuatan peta.
Misalnya pada jurnal acuan, pada peta tersebut tidak memiliki kejelasan pada bagian legendanya, bagian-bagian sungai, jalan, maupun danau. Tidak terdapat sumber peta dan untuk ukuran skalanya tidak jelas, apakah termasuk kedalam meter, kilometer, dan lain-lain.
Sedangkan untuk jurnal pembanding, kesalahan hanya terdapat pada perpaduan warna ataupun keseuaian waran oleh si pembuat tanpa meperhatikan si pembaca.
.


DAFTAR PUSTAKA

Adiprima, K. P. dan Arief. S. 2005. Kajian Kesesuaian Lahan Tambak, Konservasi Dan Permukiman Kawasan Pesisir Menggunakan System Informasi Geografis (Studi Kasus: Pesisir Pangandaran, Jawa Barat). Isntitus Teknologi Bandung. Bandung.

Bandyophadyay, S., Jaiswal, R. K., Hedge V. S., dan Jayaraman, V. 2009.Assessment of Land Suitability Potentials for Agriculture Using a Remote Sensing and GIS Based Approach. International Journal of Remote Sensing Vol. 30, Issue 4, March 2009, Hal. 879-895.

CGIA, 2005. Land Suitability Analisys User Guide: For ArcView 3.x and ArcGIS 9.x. Center for Geographic and Information Analisys. Division of Coastal Management, North Carolina.

Ely, P. 2004. Aplikasi Data Landsat dan SIG Untuk Potensi Lahan Tambak Di Kabupaten Banyuwangi. Bidang sumberdaya Alam dan Lingkungan. 

Erwindy, J. 2000. Analisis Kesesuaian Lahan Sebagai Masukan Pengembangan Wilayah Kecamatan Lembang. Program Pasca Sarjana ITB, Bandung.

Fauzy, Y., Boko S., dan Zulfia, M. M. 2009. Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Bengkulu Melalui Perancangan Model Spasial dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Forum Geografi, Vol. 23, No. 2, Desember 2009, Hal. 101 – 111.

Khrisna, P.A. 2010. Kajian Kesesuaian Lahan Tambak, Konservasi Dan Permukiman Kawasan Pesisir Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus: Pesisir Pangandaran, Jawa Barat). Institut Teknologi Bandung. Bandung.


Manurung, H. 2002. Perubahan Penggunaan Lahan Kawasan Pesisir dan Pengaruhnya terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara. Program Pasca Sarjana USU, Medan.

Senin, 18 April 2016

Nama : Suprianty JH Sinaga
NPM : E1I013036
Sistem Informasi Geografis : Kuis ke-1
#Universitasbengkulu
Pengertian data raster, atribut dan vektor. Serta kelebihan dan kekurangannya:
1.           DATA RASTER
Data raster adalah data yang menampilkan sisi ruang bumi dalam bentuk pixel (picture element) yang membentuk grid/petak. Resolusi tergantung pada ukuran pixel-nya. Semakin kecil ukuran permukaan bumi maka akan semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat baik untuk menggambarkan keadaan jenis tanah, vegetasi dan kelembaban tanah. Kelemahan data raster terletak pada besarnya ukuran file, semakin tinggi resolusi gambar maka ukuran file akan semakin besar.
Kelebihan:
a.    Memiliki struktur data yang sederhana,
b.    Mudah dimanipulasi dengan menggunakan fungsi-fungsi matematis sederhana,
c.   Teknologi yang digunakan cukup murah dan tidak begitu kompleks e. Overlay dan kombinasi data raster dengan data inderaja mudah dilakukan
d.    Memiliki kemampuan-kemampuan permodelan dan analisis spasial tingkat lanjut,
e.    Metode untuk mendapatkan citra raster lebih mudah
f.     Prosedur untuk memperoleh data dalam bentuk raster lebih mudah, sederhana dan murah.
g.    Harga system perangkat lunak aplikasinya cenderung lebih murah.

Kekurangan:
a. Secara umum memerlukan ruang atau tempat menyimpan (disk) yang besar dalam computer, banyak terjadi redudacy data baik untuk setiap layer-nya maupun secara keseluruhan.
b. Penggunaan sel atau ukuran grid yang lebiih besar untuk menghemat ruang penyimpanan akan menyebabkan kehilangan informasi dan ketelitian.
c. Sebuah citra raster hanya mengandung satu tematik saja sehingga sulit digabungkan dengan atribut-atribut lainnya dalam satu layer.
d. Tampilan atau representasi dan akurasi posisi sangat bergantung pada ukuran pikselnya (resolusi spasial).
e. Metode untuk mendapatkan format data vector melalui proses yang lama, cukup melelahkan dan relative mahal.
2.           DATA ATRIBUT
Data atribut adalah data yang memberi penjelasan atau deskripsi atas setiap objek di permukaan bumi. Data atribut berfungsi untuk menggambarkan
gejala topografi karena memiliki aspek deskriptif dan kualitatif.
3.           DATA VEKTOR
Data vektor adalah data yang direkam dalam bentuk koordinat titik dengan menggunakan titik, garis atau area (polygon). Ada tiga tipe data vector (titik, garis, dan polygon) dapat digunakan untuk menampilkan informasi pada peta. Titik mewakilkan sebagai lokasi sebuah kota atau posisi tower radio. Garis mewakilkan untuk menunjukkan route suatu perjalanan. Poligon mewakilkan untuk sebuah danau atau sebuah Negara pada peta dunia. 
Kelebihan,
1.         Struktur data lebih rumit,
2.         Sebagai sarana representasi yang baik,
3.         Transformasi proyeksi lebih efisien,
4.         Ketelitian, akurat dan lebih presisi,
5.         Relasi atribut langsung dengan DBMS (database)

Kekurangan
,
1.         Sulit dalam melakukan proses overlay,
2.         Tidak bisa menampilkan data image/foto udara,
3.        3.         Struktur data yang terlalu banyak tidak efektif dalam menampilkan banyak spasial,
4.         Memerlukan algoritma dan proses yang sangat kompleks,
5.         Kualitas (output) sangat bergantung dengan printer dan kartografi,

Sabtu, 26 Desember 2015

Ini aku, dengan teman-temanku.
Ya, memang kebanyakan laki-laki. Tapi aku senang berteman sama mereka. Karena apa? Menurut ku, kebanyakan laki-laki itu gak ada drama-dramanya kayak di film-film. Bisa diajak kemana-mana, misalnya jalan-jalan, direncanain, fix and go, gak perlu banyak ini-itu, gak lupa dengan temannya dikala susah – senang dan selalu blak-blakan, kalau gak suka ya ngomong gak suka, gitu juga sebaliknya.
Nah, kenapa aku gak terlalu punya banyak temen perempuan? Karena susah buat tau isi hatinya, banyak yang ditutupi, dan terkadang kalau dia gak suka sama sesuatu dari kita atau hal apa pun pake basa-basi dulu lalu marah dan ngambeknya tuh tahan berhari, berminggu bahkan sampai berbulan-bulan. Sedangkan kalo laki-laki tuh pasti sedikit yang ngambekan tipe kayak gitu. Jadi, itulah kenapa aku punya banyak temen laki-laki, gak gampang ngambekan dan bisa blak-blakan. Awalnya sih gak tau kenapa kayak gitu. Mungkin karena nyaman dengan hal itu dan gokil kali yah.
Terkadang juga kalau komunikasian, misalnya kita udah pada jauh-jauhan nih tempatnya gara kesibukan masing-masing. Nah, mereka laki-laki itulah yang ngabari duluan bahkan lebih sering yang laki dibanding yang perempuan. Ya, mungkin pada sibuk sih, aku tau. Walaupun say “Hello” aja gak apa-apa, berarti dia gak lupa sama kita. 
Cuman ada beberapa aja sih teman lama ku (perempuan) yang masih tetap komunikasian sama ku. Cuman dia yang masih tetap sering komunikasinya lancer sama aku, ya itu … dia, dia yang antara bisa-tidak nya dibilang kembaranku J Gimana enggak .. tanggal, bulan dan tahun lahir sama, bahkan marganya juga sama, gokil.
Ingin rasanya aku sama teman-temanku melakukan hal yang seru dan gak akan dilupakan. Misalnya, melakukan camping atau hal-hal seru bareng-bareng, pergi ketempat yang keren bareng-bareng, pokoknya semua hal yang bisa dilakukan bareng-bareng dan fotoan sampe memori penuh bareng-bareng :D pasti seru banget. Tapi sayang, kami udah punya kesibukan masing-masing dengan tempat yang berbeda pula, jadi susah. Jangankan ketemu, buat ngumpul aja udah susah sekarang.




Pesan buat teman-teman lamaku : Fighting !! Buat semua pekerjaan yang kalian lakukan dan sehat selalu ya, biar kita bisa tetap saling bertemu dan melakukan semua impian kita bareng-bareng. Pasti menyenangkan rasanya J

Dan buat teman-teman baruku : Tetap menjadi pribadi yang menyenangkan ya. Gak pengen rasanya ada yang berubah (sifat) dari kalian. Kalau itu menuju ke hal yang baik, it’s oke, tapi jangan kejauhan ya, jangan sampai sombong dan melupakan, gitu, oke buddy? 

To be continued....

Perencanaan Wilayah Pesisir Terpadu


Nama: Suprianty JH Sinaga
NPM: E1I013036
#Ilmukelautan #Universitasbengkulu
Quis Ke-4

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN WILAYAH PESISIR KOTA BENGKULU
MELALUI PERANCANGAN MODEL SPASIAL DAN SISTEM
INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)

Analisis Spasial
Analisis spasial ini adalah membuat model prosedur analisis keruang- an dengan memanfaatkan fasilitas SIG. Dalam penentuan kriteria dan parameter/variabel tersebut mengacu pada model-model sebelumnya telah dibuat oleh Purwadhi (2000), Widodo, dkk (1996), Bakosurtanal (1996), Kriteria, yang digunakan dalam analisis alokasi ruang ini adalah kriteria umum dan parameternymasih  bersifat sementara. Analisis spasial mengguna- kan formula matematis sebagai berikut:
Analisis Kesesuaian Lahan
Analisis lahan dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian lahan untuk pengunaan lahan tertentu. Dalam menentukan tingkat ke- sesuaian lahan ditentukan dengan metode pengharkatan dengan mengambil beberapa parameter serta pembobotan dalam menentukan tingkat kesesuaiannya.
Kesesuaian lahan untuk perikan- an tambak yang berhasil dirancang melalui model matematis berikut:
PT  S(E) + LR(< 3) + R(< 2000)
+ P(< 4000) + PL(r, b) + MP(n) + J(< 2000) + RTR W(B)
Keterangan:
PT   Wilaya potensia untuk perikanan tambak
S     Jenis tanah Entisol (E)
LR  Kelerengan datar : (0 - 3%)
R     Jarak dari sungai (0 - 2000 meter)
P     Jarak dari pantai (0 - 4000 meter)
PL  Jenis penggunaan lahan : rawa
(r) atau belukar (b)
MP  Mata Pencaharian Penduduk nelayan (n)
i      Jarak dari jalan (0 2000 meter)
RTRW   Rencan peng gunaan lahan untuk budidaya (B)

Kesesuaian lahan pariwisata pesisir yang berhasil dirancang melalui model matematis berikut:

PP   P(p) + J(c) + B(< 5) + V (k, pp) + PL(It) + MP(n, d) + J(<
500) + S(at, h) + RTRW (P)
Keterangan :

PP   Wilaya potensia untuk pariwisata pesisir
P     Jenis pantai : berpasir (p)
i      Kecerahan perairan : cerah

B     Kedalaman perairan (0 - 5 meter)
  Vegetasi : kelapa (k), pines pantai (pp)
PL  Peng gunaan lahan : Lahan
Terbuka (It)
MP  Mata Pencaharian Penduduk
: nelayan (n), pedagang (d)

i      Jarak  dari  jalan  (0   500 meter)
S     Sarana : Air tawar (at), Hotel
(h)
RTRW   Rencana    peng gunaan lahan untuk : pariwisata (P)

Kesesuaian lahan kawasan konservasi yang berhasil dirancang melalui model matematis berikut:
PK  S(E) + V(p, m) + PL(h) + RTRW (K)

Keterangan :
PK  Wilaya potensia untuk kawasan Konservasi
S     Jenis tanah : (E) Entisol

  Vegetasi : pinus (p), mangrove
(m)
PL  Penggunanan Lahan : hutan
(h)
RTRW   Rencan peng gunaan lahan untuk : (K) konservasi


Analisis kesesuaian lahan pesisir
Kota Bengkulu untuk berbagai peruntukan, budidaya perikanan tambak, pariwisata bahari (renang dan rekreasi pantai) dan konservasi wilayah pesisir dilakukan dengan teknik yang sama. Pertama, penetapan persyaratan (parameter dan kriteria), pembobotan dan scoring. Untuk masing-masing peruntukkan, penetapan persyaratan tidak sama. Parameter yang menentu- kan diberikan bobot terbesar sedangkan kriteria, (batas-batas) yang sesuai diberi- kan skor tertinggi. Parameter, bobot dan skor sistem penilaian masing- masing kesesuaian lahan disajikan dalam bentuk matriks kesesuaian lahan (lampiran 1). Kedua perhitungan nilai peruntukkan lain. Penghitungan kesesuaian dilakukan dengan mengali- kan bobot dengan skor, untuk sesuai (skor 3), sesuai bersyarat (skor 2) dan tidak sesuai (skor 1). Ketiga, pembagi- an kelas lahan. Berdasarkan perkalian bobot dan skor tersebut pembagian kelas lahan dan nilainya dalam pe- nelitian ini dibagi dalam tiga kelas yaitu Kelas S1: Sesuai; Kelas S2 : Sesuai Bersyarat dan Kelas N: Tidak Sesuai. 
Keempat, memadankan (mem- bandingkan) nilai lahan dengan nilai masing-masing kelas lahan. Kelima, penyajian grafis (spasial) hasil analisis berupa peta kesesuian lahan.

Kesesuaia Laha Pariwisata Bahari
Alokasi spasial untuk kesesuaian lahan pariwisata dilakukan melalui analisa beberapa faktor yang me- mengaruhi kesesimian lahan, faktor- faktor yang dapat dianalisa adalah 1) Keterlindungan perairan, faktor ini memperhatikan keberadaan terumbu karang sebagai pelindung dan pemecah ombak di perairan wilayah pesisir, daerah teluk dan perairan yang terlindung pulau yang besar ombak dan arusnya relatif rendah dan tenang.
2) Wilayah konservasi atau Jalur hijau pantai, faktor ini memperhatikan keberadaan hutan mangrove dan sumberdaya alam pesisir lainnya yang perlu dilestarikan. 3) Masalah pencemaran, 4) Aksesbilitas faktor ini memperhatikan sarana/prasarana, jaringan jalan dan bentuk pantai. Berdasarkan faktor-faktor yang harus dianalisis tersebut variabel yang dijadikan dasar dalam merancang model spasial untuk pengembangan usaha pariwisata bahari (renang dan rekreasi pantai) di Kota Bengkulu.

PENGERTIAN DAYA DUKUNG,
Menurut Soerjani et al. (1987), pengertian daya dukung lingkungan adalah batas teratas dari pertumbuhan suatu populasi saat jumlah populasi tidak dapat didukung lagi oleh sarana, sumber daya dan lingkungan yang ada. Menurut Khana dalam  KLH (2010) daya dukung lingkungan dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mendapatkan hasil atau produk di suatu daerah dari sumber daya alam yang terbatas dengan mempertahankan jumlah dan kualitas sumberdayanya.
Sesuai dengan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa daya dukung lingkungan tidak hanya diukur dari kemampuan lingkungan dan sumberdaya alam dalam mendukung kehidupan manusia, tetapi juga dari kemampuan menerima beban pencemaran dan bangunan.
Menurut UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Pengertian (Konsep) dan Ruang Lingkup Daya Dukung Lingkungan Menurut UU No. 23/ 1997, daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antarkeduanya. Menurut Soemarwoto (2001), daya dukung lingkungan pada hakekatnya adalah daya dukung lingkungan alamiah, yaitu berdasarkan biomas tumbuhan dan hewan yang dapat dikumpulkan dan ditangkap per satuan luas dan waktu di daerah itu. Menurut Khanna (1999), daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity).
Sedangkan menurut Lenzen (2003), kebutuhan hidup manusia dari lingkungan dapat dinyatakan dalam luas area yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan manusia. Luas area untuk mendukung kehidupan manusia ini disebut jejak ekologi (ecological footprint). Lenzen juga menjelaskan bahwa untuk mengetahui tingkat keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan, kebutuhan hidup manusia kemudian dibandingkan dengan luas aktual lahan produktif. Perbandingan antara jejak ekologi dengan luas aktual lahan produktif ini kemudian dihitung sebagai perbandingan antara lahan tersedia dan lahan yang dibutuhkan. Carrying capacity atau daya dukung lingkungan mengandung pengertian kemampuan suatu tempat dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara optimum dalam periode waktu yang panjang. Daya dukung lingkungan dapat pula diartikan kemampuan lingkungan memberikan kehidupan organisme secara sejahtera dan lestari bagi penduduk yang mendiami suatu kawasan.
Definisi Daya Dukung Lingkungan/Carrying Capacity yang lain adalah sebagai berikut:
a.  Jumlah organisme atau spesies khusus secara maksimum dan seimbang yang dapat didukung oleh suatu lingkungan
b. Jumlah penduduk maksimum yang dapat didukung oleh suatu lingkungan tanpa merusak lingkungan tersebut
c.  Jumlah makhluk hidup yang dapat bertahan pada suatu lingkungan dalam periode jangka panjang tampa membahayakan lingkungan tersebut
d. Jumlah populasi maksimum dari organisme khusus yang dapat didukung oleh suatu lingkungan tanpa merusak lingkungan tersebut
e.  Rata-rata kepadatan suatu populasi atau ukuran populasi dari suatu kelompok manusia dibawah angka yang diperkirakan akan meningkat, dan diatas angka yang diperkirakan untuk menurun disebabkan oleh kekurangan sumber daya. Kapasitas pembawa akan berbeda untuk tiap kelompok manusia dalam sebuah lingkungan tempat tinggal, disebabkan oleh jenis makanan, tempat tinggal, dan kondisi sosial dari masing-masing lingkungan tempat tinggal tersebut.

Dengan demikian, daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi dua komponen yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity).

SUMBER
http://jembatan4.blogspot.co.id/2013/08/pengertian-daya-dukung-lingkungan.html


Fauzi, Y., Susilo. B., dan Mayasari. Z.M., 2008, Model Pengelolaan Wilayah Pesisir Kota            Bengkulu 
Menggunakan SIG. Makalah seminar nasional Semirata Bidang MIPA tahun               2008, 
Unsyiah. Banda Aceh.